Halu Oleo Tobacco Center (HOTC)

Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Halu Oleo mengadakan webinar Internasional dan Launching Halu Oleo Tobacco Center (HOTC) pada hari Jumat (16/06/2023)  yang bertempat di Aula FKM UHO dan diikuti secara online.

Menghadirkan Dr. Suhadi, S.KM., M.Kes (Dekan FKM UHO dan Direktur Halu Oleo Tobacco Control Center), Prof. Dr. dr. H. M. Alimin Maidin, MPH (Direktur Hasanuddin CONTACT), Prof. Dr. Muhammad Zamrun Firihu, S.Si., M.Si., M.Sc (Rektor UHO), Dr. Tara Singh Bam (Director of International Union Against Tuberculosis and Lung Disease, Asia Pacific, Singapore), Dr. Eva Susanti, S.Kp., M.Kes (Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tidak Menular (Kemenkes)), Hj. Usnia, A.Md.Keb., S.KM., M.Kes (Dinas Kesehatan Provinsi Sulawesi Tenggara), Abdul Aziz, S.H. M.H (Bupati Kolaka Timur), H. Surunuddin Dangga, ST., MM. (Bupati Konawe Selatan), Asmawa Tosepu, AP, M.Si (Walikota Kendari).

Adapun Webinar ini dibuka oleh Prof. Dr. Muhammad Zamrun Firihu, S.Si., M.Si., M.Sc (Rektor UHO)  dengan harapan tantangan rokok harus ada upaya dari pemerintah, bukan hanya perguruan tinggi tetapi harus ada kerja sama dengan pemerintah dan kegitan ini bukan hanya dengan seminar saja tetapi Halu oleo juga akan melalui HOTC,

Dalam sambutannya Prof. Dr. dr. H. M. Alimin Maidin mengatakan “Ini momentum yang sangat berharga karena jadi menjadi cikal bakal menjadi advokasi bagi seluruh Sultra khususnya Indonesia Timur. Apalagi untuk anak-anak kita, akan dapat bonus demografi.. apalagi kita diwilayah Sulawesi banyak orang cerdas seperti Habibi”

Menurut Dr. Tara Singh Bam  Faktor risiko Tuberculosis adalah perokok. 1/3 pasien TB terdampak karena merokok. Jadi aksi mendesak yang harus dilakukan adalah sebagai berikut :

1. Tingkat nasional harus menaikan harga rokok serta melarang penjualan rokok Batangan. Akan menekan prevalensi perokok pemula. Target kita menyelamatkan gernasi muda kita.

2. Pelarangan iklan rokok, Kota magelang pusat produksi rokok untuk menurunkan iklan yang ada di jalan diganti dengan iklan kesehatan dan melarang iklan rokok yang ada di luar ruangan.

3. Gambar pada bungkus rokok. Ternyata mereka bisa mematuhi aturan dari negara lain. Sudah tidak ada lagi gambar roko,  total seluruh bungkus rokok tidak ada lagi gambar rokok.

Dalam pihak pemerintah Abdul Aziz, S.H. M.H (Bupati Kolaka Timur) mengatakan “Sejauh mana peran dari Kabupaten Koltim dalam hal rokok, tahun 2018 kita sudah mengeluarkan peraturan Bupati terkait rokok ini, apalagi pasca covid itu dengan merokok. Yang jadi spot atau sasaran Kawasan tanpa rokok yaitu kantor pemerintah daerah, rumah sakit, tempat pendidikan, tempat anak-anak bermain, tempat ibadah,  kita tidak henti-hentinya menyampaikan untuk mengurangi atau tidak merokok. Pasal 12 ayat 2 dilakukan dengan peran masyarakat itu memberikan sumbangan pemikiran terkait KTR di daerah, memberikan bantuan sarana prasana, melakukan bimbingan dan penyuluhan. Harus perlahan-lahan disampaikan,  kebiasaan yang di Koltimnya ini yang sulit untuk mengurangi konsumsi rokok kondisi yang hawanya sejuk kita berharap konsumsi rokok berkurang minimal tidak menyebarkan kepada orang lain dan Smoking area kita ada untuk setiap kantor” terangnya.

Redaksi: Winarzih, Narator : Sukmawati, Editor : Rosmini, Web Akun : Asri Wahyuni supported by health proz